Jakpost.id, Pada 27 Juli 2025, Thailand dan Kamboja secara resmi mengumumkan kesepakatan damai dan gencatan senjata yang mengakhiri ketegangan perbatasan yang telah berlangsung lama. Pengumuman bersejarah ini disampaikan setelah serangkaian negosiasi intensif yang difasilitasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan beberapa negara anggota ASEAN.
Cucu Pendiri Namyang Dairy yang Buron, Hwang Ha-na, Terendus di Kamboja
Kesepakatan tersebut mencakup penarikan pasukan dari area sengketa di sekitar kuil Preah Vihear, pembentukan komite bersama untuk demarkasi ulang perbatasan, serta inisiatif kerja sama ekonomi dan budaya di wilayah perbatasan. Perdana Menteri Thailand, Somsak Ratanakul, menyatakan dalam konferensi pers di Bangkok bahwa “hari ini adalah hari bersejarah bagi kedua negara. Kami telah memilih jalur dialog dan perdamaian demi masa depan yang lebih cerah bagi rakyat kami.”
Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza: Pernyataan dari Hamas dan Respons Israel
Senada dengan itu, Perdana Menteri Kamboja, Hun Many, dalam pidatonya di Phnom Penh, menekankan pentingnya kerja sama regional. “Gencatan senjata ini bukan hanya tentang menghentikan konflik, tetapi juga tentang membangun kembali kepercayaan dan memupuk kemakmuran bersama,” ujarnya.
Tornado Dahsyat di Ninh Bình, Vietnam: 9 Orang Tewas dan Kerusakan Meluas
PBB dan negara-negara anggota ASEAN menyambut baik kesepakatan ini sebagai langkah maju yang signifikan menuju stabilitas dan perdamaian di Asia Tenggara. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memuji kepemimpinan kedua negara dalam menyelesaikan perselisihan melalui jalur diplomatik. “Ini adalah contoh nyata bagaimana komitmen terhadap dialog dapat mengatasi perbedaan dan membangun jembatan perdamaian,” kata Guterres dalam pernyataannya.
Meskipun detail penuh dari kesepakatan ini belum sepenuhnya dirilis ke publik, para analis politik memperkirakan bahwa resolusi konflik ini akan membuka jalan bagi peningkatan investasi dan pariwisata di kedua negara, serta memperkuat posisi ASEAN sebagai kekuatan regional yang mampu menyelesaikan masalah internalnya sendiri. Masyarakat di kedua belah pihak berharap kesepakatan ini akan membawa dampak positif yang berkelanjutan bagi kehidupan mereka.
Xi Jinping Desak AS Tegaskan Penolakan Kemerdekaan Taiwan
Permaisuri Monireth Kamboja sedang menjalani perawatan di Tiongkok








