Jakpost.id, Setelah Sri Lanka dan Bangladesh, kini Nepal menjadi panggung terbaru bagi aksi protes besar-besaran yang digerakkan generasi Z. Ketidakmampuan elite politik lama membaca keresahan rakyat membuat mereka kehilangan jabatan dan kepercayaan publik.
Kericuhan yang pecah sejak awal September 2025 ini berawal dari dua pemicu utama: pemblokiran media sosial dan kasus tabrak lari di Koshi yang melibatkan pejabat lokal namun tidak diproses hukum. Situasi semakin memanas setelah pemerintah merespons dengan cara represif.
Ketegangan di Kathmandu
Hingga Rabu (10/9/2025), kondisi di Kathmandu dan sejumlah kota masih belum terkendali. Media lokal menyebutnya sebagai Gen Z Protest. Pemerintah memberlakukan jam malam hingga Kamis pagi, sementara militer mengambil alih keamanan mulai Selasa malam.
Jenderal Ashokraj Sigdel, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Nepal, meminta massa menahan diri dan menjaga situs bersejarah dari kerusakan. Namun, eskalasi kerusuhan sulit dibendung. Gedung-gedung penting seperti Istana Kepresidenan, Parlemen, hingga Mahkamah Agung menjadi sasaran pembakaran. Bahkan, massa berhasil merebut senjata dari Mahkamah Agung dan melepaskan tembakan ke udara.
Bandara Internasional Tribhuvan di Kathmandu pun ditutup, membuat semua penerbangan dibatalkan demi menghindari kerusakan fasilitas.
Elite Politik Jadi Sasaran

Mantan Perdana Menteri Khadga Prasad Sharma Oli yang mengundurkan diri pada Selasa sore menghilang tanpa jejak. Rumahnya serta rumah para mantan perdana menteri lain diserang massa. Dalam salah satu insiden tragis, Rajyalaxmi Chitrakar istri mantan PM Jhala Nath Khanal meninggal akibat luka bakar ketika rumahnya dibakar.
Mantan PM Sher Bahadur Deuba dan istrinya, Arju Rana Deuba, juga menjadi korban. Mereka dipukuli dan diseret keluar rumah sebelum kediamannya dibakar. Arju sendiri adalah menteri dalam kabinet Oli, sehingga kemarahan massa terhadap keluarga politik kian meluas.
Dari Damai ke Berdarah

Aksi yang awalnya hanya berupa unjuk rasa damai di Kathmandu pada Senin (8/9/2025) berubah menjadi tragedi. Ribuan pelajar dan mahasiswa turun ke jalan dengan poster protes, bahkan sebagian masih mengenakan seragam sekolah. Namun, saat polisi bertindak brutal, situasi berubah total.
Dalam dua hari, tercatat 20 orang tewas dan hampir 400 lainnya luka-luka akibat tindakan aparat. Kekerasan ini justru memperluas protes dari ibu kota ke berbagai penjuru Nepal.
Mantan Menteri Komunikasi, Gokul Baskota, menilai pemerintah Oli keliru besar karena menganggap generasi muda bisa ditekan dengan kekuasaan. Menurutnya, generasi Z justru semakin berani ketika dibungkam.
Amarah Gen Z: Dari Media Sosial hingga Jalanan

Ciri khas protes ini adalah cara generasi Z menyuarakannya. Aksi awal dilakukan secara daring melalui media sosial. Saat turun ke jalan, mereka tetap menyiarkan secara langsung melalui berbagai platform.
Pemblokiran media sosial oleh pemerintah malah memperparah keadaan. Bagi generasi Z, platform digital bukan hanya tempat bersosialisasi, tetapi juga ruang belajar dan bekerja. Keputusan ini dianggap sebagai bentuk pembungkaman dan menambah bahan bakar kemarahan
Faktor Pemicu Lain: Nepobaby dan Pamer Kemewahan

Selain kasus tabrak lari, kemarahan publik juga dipicu oleh gaya hidup mewah anak-anak elite politik. Mereka kerap memamerkan liburan dengan jet pribadi, belanja barang bermerek, hingga kuliah di luar negeri dengan biaya fantastis.
Padahal, keluarga elite ini tidak dikenal memiliki kekayaan besar sebelum masuk dunia politik. Fenomena ini melahirkan istilah Nepobaby, yang ramai digunakan warganet Nepal untuk mengecam perilaku anak pejabat.
Unggahan-unggahan lama mereka kembali beredar di media sosial, memicu gelombang sentimen negatif yang mempercepat runtuhnya kekuasaan Oli dan sekutunya.








