Tokopedia Kembali Lakukan PHK, Ratusan Karyawan Terdampak Pasca Merger dengan TikTok
- account_circle Ahmad Fadhil ( Redaksi )
- calendar_month Selasa, 26 Agt 2025
- visibility 41
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakpost.id, Jakarta, 26 Agustus 2025 – Isu pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghantam Tokopedia, menyusul integrasi dengan TikTok Shop yang berlangsung sejak akhir 2023. Kabar pengurangan karyawan ini ramai diperbincangkan di media sosial, namun belum mendapatkan klarifikasi dari pihak manajemen.
Beberapa karyawan yang menjadi korban kebijakan tersebut mengungkap bahwa informasi PHK selalu datang secara tiba-tiba. Umumnya, undangan pertemuan internal dikirim sehari sebelumnya tanpa penjelasan apa pun yang kemudian menjadi momen pemberitahuan PHK.
“Semuanya serba mendadak, tidak ada pengumuman resmi sebelumnya. Malah sering kali informasi datang dari pihak luar,” ujar seorang sumber yang enggan disebutkan namanya, Senin (25/8).
Meskipun sempat ada pengurangan tenaga kerja tahun lalu, kini gelombang baru muncul kembali. Penyatuan struktur antara Tokopedia dan TikTok Shop disebut sebagai penyebab utama karena adanya tumpang tindih peran di beberapa divisi.
Selama dua bulan terakhir, jumlah pekerja yang diberhentikan diperkirakan mencapai 420 orang. Pada bulan Agustus saja, 240 staf dilaporkan terdampak, menyusul 180 lainnya yang telah dilepas pada Juli lalu. Posisi yang terkena dampak mencakup bagian teknologi, layanan pelanggan, hingga logistik dan gudang.
Namun menurut sumber internal, pengurangan personel sejatinya sudah berlangsung secara bertahap sejak lama. “Prosesnya rutin tiap kuartal, cuma baru belakangan ini angkanya besar, jadi lebih kelihatan,” ucapnya.
Sementara itu, pihak Tokopedia sendiri belum merilis pernyataan resmi terkait hal ini meskipun sudah dihubungi oleh sejumlah media.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Budi Primawan, menyatakan bahwa penyelarasan struktur organisasi memang menjadi hal yang umum dalam proses konsolidasi pasca-merger. Namun dia belum bisa mengonfirmasi secara pasti jumlah tenaga kerja yang terpengaruh.
Kelebihan Karyawan Jadi Alasan Pengurangan
Menurut informasi dari sumber dalam perusahaan, salah satu alasan utama PHK adalah karena jumlah pekerja dianggap terlalu banyak setelah penggabungan dengan TikTok Shop. Perusahaan menilai struktur menjadi “terlalu besar” dan tidak efisien.
Sumber tersebut juga menyebut bahwa total pegawai gabungan dari kedua entitas di Indonesia diperkirakan mencapai 2.500 orang, yang dianggap melebihi kebutuhan pasca integrasi. Selain itu, beberapa fungsi teknis disebutkan sudah mulai dialihkan ke tim di Tiongkok, menandai pergeseran pusat kendali operasional.
“Banyak tugas teknis sekarang langsung berkoordinasi dengan kantor pusat di China. Nantinya, hanya tim bisnis dan pemasaran yang akan tetap berada di Indonesia,” jelas sumber itu lagi.
Integrasi penuh sistem antara TikTok Shop dan Tokopedia dijadwalkan selesai pada Desember 2025, dan proses PHK kemungkinan masih akan berlanjut hingga waktu tersebut.
Penutupan Layanan Gudang ‘Dilayani Tokopedia’
Tak hanya pengurangan karyawan, Tokopedia juga menghentikan operasional salah satu unit logistik mereka, yakni layanan ‘Dilayani Tokopedia’. Layanan yang diluncurkan pada Maret 2022 ini merupakan solusi pemenuhan pesanan bagi seller, menyerupai sistem Fulfillment by Amazon (FBA).
Namun, akibat restrukturisasi bisnis, layanan tersebut resmi ditutup per 15 Agustus 2025. Gudang-gudang serta tenaga kerja yang mendukung layanan ini pun ikut diberhentikan. “Pengosongan fasilitas akan tuntas pada September hingga Oktober ini,” ujar sumber yang mengetahui proses internal tersebut.
Perjalanan Akuisisi Tokopedia oleh TikTok
Pada Januari 2024, ByteDance perusahaan induk TikTok mengakuisisi 75,01% saham Tokopedia dari GoTo, senilai lebih dari USD 800 juta. Kesepakatan tersebut memungkinkan TikTok kembali menjalankan layanan e-commerce di Indonesia melalui Tokopedia, menyusul larangan transaksi langsung lewat media sosial.
GoTo masih memegang 24,99% saham, tetapi peran dominan kini sepenuhnya di tangan TikTok. Sejak saat itu, berbagai langkah efisiensi mulai diberlakukan, termasuk pengurangan SDM dan evaluasi lini bisnis.
Konsolidasi ini memang memunculkan tantangan. Tumpang tindih tim dan struktur organisasi membuat langkah rasionalisasi tak terhindarkan. Dan seperti biasa dalam kasus merger, karyawan menjadi pihak yang paling terdampak.
- Penulis: Ahmad Fadhil ( Redaksi )

