Wapres ke-6 RI Try Sutrisno Wafat di RSPAD, Tutup Usia 90 Tahun
- account_circle Ahmad Fadhil ( Redaksi )
- calendar_month Senin, 2 Mar 2026
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakpost.id, Jakarta – Kabar duka datang dari dunia politik dan militer Indonesia. Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, meninggal dunia pada usia 90 tahun. Almarhum mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026) pagi.
Informasi wafatnya Try Sutrisno dikonfirmasi langsung oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. Ia menyampaikan bahwa almarhum meninggal pada pukul 06.58 WIB.
“Kita berdukacita sangat mendalam. Saya sudah meminta RSPAD dan Garnisun Setneg untuk memberikan atensi terbaik,” ujar Prasetyo saat dihubungi, Senin pagi.
Rencananya, jenazah akan disemayamkan di kediaman duka di kawasan Jalan Purwakarta, Menteng, Jakarta Pusat, sebelum prosesi penghormatan terakhir dilakukan.
Riwayat Kesehatan Try Sutrisno
Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi kesehatan Try Sutrisno memang beberapa kali menjadi perhatian publik. Meski demikian, pihak keluarga dan rumah sakit kerap membatasi informasi terkait detail medis yang bersifat pribadi.
Pernah Alami Transient Ischemic Attack pada 2008
Pada 2008, Try Sutrisno sempat mengalami gangguan penyempitan pembuluh darah di otak atau yang dikenal sebagai Transient Ischemic Attack (TIA). Saat itu, tim dokter kepresidenan yang diwakili Prof. Dr. Djoko Rahardjo menyatakan bahwa kondisi tersebut membuat almarhum harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU.
Kala itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga sempat menjenguk Try Sutrisno di rumah sakit. Dalam pernyataannya yang dikutip dari laman Sekretariat Negara, Jusuf Kalla menyebut kondisi Try sempat membaik setelah penanganan cepat dari tim medis.
“Kami sempat berbincang dan tertawa bersama. Dokter kita sangat sigap karena ada istilah golden period dalam penanganan kasus seperti ini. Jika terlambat, bisa berakibat fatal,” ujar Jusuf Kalla saat itu.
Dirawat Kembali pada 2022
Memasuki 2022, Try Sutrisno kembali menjalani perawatan di RSPAD Gatot Soebroto. Namun, pihak rumah sakit tidak merinci diagnosis medis yang dialami mantan Panglima ABRI tersebut.
Kepala RSPAD saat itu, Letjen TNI Albertus Budi Sulistya, hanya menyampaikan bahwa kondisi almarhum menunjukkan perbaikan setelah beberapa hari dirawat.
“Beliau sudah dirawat beberapa hari. Soal diagnosis saya tidak berwenang menjelaskan, yang jelas saat itu kondisi beliau membaik,” kata Albertus dalam keterangannya.
Mengenal Transient Ischemic Attack (TIA)
Istilah Transient Ischemic Attack (TIA) kerap disebut sebagai “stroke ringan”. Namun, kondisi ini tetap memerlukan perhatian serius.
Mengutip Mayo Clinic, TIA terjadi akibat gangguan sementara pada aliran darah menuju otak. Gejalanya biasanya berlangsung beberapa menit hingga kurang dari satu jam, dan tidak menimbulkan kerusakan permanen. Meski begitu, TIA sering menjadi peringatan dini terhadap potensi stroke di kemudian hari.
Secara statistik, sekitar satu dari tiga orang yang pernah mengalami TIA berisiko mengalami stroke dalam waktu berikutnya. Bahkan, setengah dari kasus tersebut terjadi dalam kurun satu tahun setelah TIA pertama.
Gejala Umum TIA
Beberapa tanda yang sering muncul pada penderita TIA antara lain:
-
Kelemahan atau mati rasa pada wajah, lengan, atau kaki, biasanya pada satu sisi tubuh
-
Gangguan bicara, seperti cadel atau sulit memahami pembicaraan
-
Gangguan penglihatan, termasuk kebutaan sementara atau penglihatan ganda
-
Pusing, kehilangan keseimbangan, atau gangguan koordinasi
Para ahli kesehatan menegaskan bahwa siapa pun yang mengalami gejala tersebut harus segera mencari pertolongan medis. Penanganan cepat sangat menentukan keselamatan pasien.
Sosok Try Sutrisno di Panggung Nasional
Sebagai Wakil Presiden ke-6 RI yang menjabat pada periode 1993–1998 mendampingi Presiden Soeharto, Try Sutrisno dikenal sebagai figur militer yang memiliki rekam jejak panjang di tubuh TNI. Sebelum memasuki jabatan politik, ia pernah menjabat sebagai Panglima ABRI.
Kepergiannya menandai berakhirnya salah satu bab penting dalam sejarah kepemimpinan nasional Indonesia.
Pemerintah dan sejumlah tokoh nasional dijadwalkan akan memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Hingga berita ini diturunkan, suasana duka masih menyelimuti kediaman keluarga di Menteng.
- Penulis: Ahmad Fadhil ( Redaksi )


Saat ini belum ada komentar