Jakpost.id, Halo, Sobat Petualang dan Pecinta Misteri Kuno! Coba deh bayangkan sejenak: kamu sedang berdiri di pelataran luas di Jawa Tengah, di bawah sunrise yang oranye keemasan, menghadap sebuah bangunan raksasa yang sudah berdiri teguh selama lebih dari seribu tahun. Ya, kita sedang bicara tentang Candi Borobudur!
Ini bukan cuma sekadar tempat wisata, lho. Bangunan ini adalah mahakarya arsitektur Buddha terbesar di dunia, sebuah masterpiece yang penuh teka-teki, spiritualitas, dan yang pasti, sejarah yang luar biasa panjang. Kalau kamu pernah bertanya-tanya, siapa sih yang membangunnya? Kapan tepatnya candi megah ini berdiri? Nah, kamu datang ke tempat yang super pas!
Artikel ini akan membawa kamu melintasi waktu, membongkar setiap lapisan misteri, dan mempelajari sejarah berdirinya Candi Borobudur yang sangat legenda. Kita akan bahas dari mulai abad ke-8, era politik yang penuh intrik, sampai proses restorasi yang nyaris mustahil. Siapkan diri kamu, karena kita akan time travel ke masa Jawa Kuno!
Abad ke-8: Era Emas Mataram Kuno dan Awal Mula Sejarah Candi Borobudur
Untuk memahami kenapa Candi Borobudur bisa berdiri semegah itu, kita harus kembali ke masa kejayaan Kerajaan Mataram Kuno (Wangsa Syailendra). Bayangkan masa itu adalah era renaissance-nya Jawa, di mana seni, arsitektur, dan spiritualitas berkembang pesat
Teka-Teki Pendiri: Siapa Dalang di Balik Mahakarya Ini?
Di sinilah sejarah mulai terasa seperti cerita detektif. Sayangnya, tidak ada prasasti tunggal yang secara eksplisit menyebutkan “Candi Borobudur dibangun oleh si A pada tanggal B”. Namun, para ahli, seperti sejarawan terkemuka Dr. J. G. de Casparis, berhasil menyimpulkan perkiraan kuat berdasarkan inskripsi dan analisis gaya arsitektur.
Konsensus para ahli: Candi Borobudur diyakini dibangun pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra yang beragama Buddha Mahayana. Pembangunan ini diperkirakan dimulai sekitar tahun 778 Masehi hingga selesai sekitar tahun 825 Masehi.
Raja Samaratungga sering disebut-sebut sebagai raja yang memerintahkan penyelesaian dan peresmian candi. Namun, beberapa sejarawan percaya bahwa pembangunan awalnya mungkin diprakarsai oleh ayahnya, Raja Wisnu (atau Dharmawangsa). Intinya, pembangunan Candi Borobudur adalah proyek dinasti yang memakan waktu hampir satu abad, melewati beberapa generasi penguasa. Itu adalah proyek mega-super-giga pada masanya!
Tujuan Pembangunan: Bukan Sekadar Candi Biasa
Kenapa dinasti sekuat Syailendra menghabiskan waktu, tenaga, dan harta sebanyak itu untuk membangun Candi Borobudur?
Struktur bangunan ini sendiri memberikan jawabannya. Borobudur dirancang sebagai representasi kosmologi Buddha Mahayana. Bentuknya adalah Stupa raksasa yang juga berfungsi sebagai Mandalala tiga dimensi.
Tiga Tingkat Spiritual:
-
Kamadhatu (Dunia Nafsu): Bagian dasar candi, melambangkan manusia yang terikat pada keinginan duniawi. Relif di sini menggambarkan hukum karma.
-
Rupadhatu (Dunia Rupa): Bagian tengah yang berbentuk persegi, melambangkan manusia yang sudah meninggalkan nafsu, namun masih terikat pada bentuk (rupa). Ini adalah area dengan relief terpanjang di dunia (lebih dari 2.500 panel!).
-
Arupadhatu (Dunia Tanpa Rupa): Bagian atas yang berbentuk lingkaran dengan stupa-stupa berlubang, melambangkan puncak pencapaian spiritual, kekosongan, dan nirwana.
Ini menunjukkan bahwa tujuan utama pendirian Borobudur bukan hanya sebagai tempat ibadah biasa, tapi sebagai kitab suci yang dipahat di atas batu. Setiap umat Buddha yang berjalan mengelilingi candi ini (melakukan ritual Pradaksina) secara fisik menjalani perjalanan spiritual menuju pencerahan.
Bahan Dasar yang Tahan Banting
Hampir seluruh bagian Candi Borobudur dibangun menggunakan batu Andesit, yaitu batuan vulkanik yang sangat kokoh. Diperkirakan, candi ini menggunakan lebih dari dua juta balok batu andesit, yang diambil dari sungai-sungai sekitar, lalu diangkut dan dipahat di lokasi.
Rahasia Puzzle Raksasa: Blok-blok batu ini tidak disemen lho! Mereka disambung menggunakan sistem kait dan lekuk (mirip mainan puzzle atau lego) yang sangat presisi. Kejeniusan ini memungkinkan struktur candi beradaptasi dengan gempa bumi dan pergerakan tanah, sekaligus membiarkan air hujan mengalir keluar, mengurangi kerusakan akibat erosi.
Profesor Soekmono, arsitek dan arkeolog legendaris Indonesia yang memimpin restorasi besar-besaran, pernah berujar, “Borobudur adalah pelajaran tentang bagaimana cara membangun struktur besar di tanah vulkanik. Mereka tahu betul tentang drainase, tentang keseimbangan, dan tentang jiwa yang dipahat ke dalam batu. Ini adalah sejarah candi borobudur yang patut kita banggakan.”
Relief dan Patung Buddha: Seni Bercerita
Tidak hanya teknik konstruksi, tapi seni pahatnya juga tak tertandingi.
Total ada 2.672 panel relief yang menceritakan kisah-kisah utama dalam ajaran Buddha, seperti Jataka (kisah kehidupan Buddha sebelum lahir), Lalitavistara (kisah hidup Siddhartha Gautama), dan Gandawyuha (perjalanan Sudhana mencari pencerahan).
Saat kamu berjalan mengelilingi lorong-lorong candi, kamu secara visual membaca komik terpanjang di dunia yang menceritakan perjalanan spiritual! Selain itu, terdapat sekitar 504 arca Buddha yang tersebar dari kaki hingga puncak candi. Posisi tangan (mudra) setiap arca berbeda-beda, melambangkan arah mata angin dan tahapan spiritual yang berbeda.
Hilang Ditelan Waktu: Periode Kelam Candi Borobudur
Setelah berdiri tegak dan menjadi pusat ziarah selama sekitar dua abad, Candi Borobudur menghadapi masa-masa kelam yang nyaris membuatnya terlupakan selamanya.
Migrasi dan Letusan Gunung Merapi
Sekitar abad ke-10 atau ke-11 Masehi, terjadi pergeseran kekuasaan di Jawa. Pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Para sejarawan menduga, migrasi besar ini dipicu oleh aktivitas vulkanik dahsyat dari Gunung Merapi yang tak henti-hentinya.
Ketika ibu kota dan pusat keagamaan pindah, Candi Borobudur ditinggalkan. Perlahan, candi ini mulai tertutup oleh abu vulkanik, tanah, dan vegetasi hutan tropis yang tumbuh subur.
Selama ratusan tahun, candi raksasa ini tersembunyi, menjadi semacam “bukit batu” misterius yang dikenal hanya oleh penduduk lokal. Mereka mungkin melihatnya sebagai tempat keramat atau angker, tapi detail sejarah candi borobudur yang sebenarnya mulai kabur dan menjadi legenda rakyat.
Penemuan Kembali oleh Inggris (Raffles)
Sejarah yang terlupakan ini akhirnya bangkit lagi berkat seorang Gubernur Jenderal Inggris yang terkenal, Sir Thomas Stamford Raffles.
Pada tahun 1814, saat Raffles sedang melakukan tur di Semarang, ia mendengar laporan tentang sebuah monumen raksasa yang tersembunyi di hutan dekat desa Borobudur. Karena rasa penasaran yang kuat, Raffles memerintahkan seorang insinyur Belanda bernama H. C. Cornelius untuk membersihkan dan meneliti lokasi tersebut.
Cornelius dan timnya harus bekerja keras selama berminggu-minggu dengan ratusan pekerja lokal untuk menebang pepohonan, membersihkan tanah, dan menyingkirkan puing-puing. Meskipun hanya berhasil membersihkan bagian permukaan, penemuan ini menandai awal dari pengakuan kembali Candi Borobudur sebagai world heritage. Raffles kemudian memasukkan temuannya ini dalam bukunya yang terkenal, The History of Java.
Restorasi Epik: Menyelamatkan Warisan Sejarah Dunia
Penemuan kembali Borobudur hanyalah permulaan. Kondisinya saat itu sangat mengenaskan: banyak batu yang hilang, fondasi yang miring, dan ancaman kehancuran total. Dibutuhkan upaya internasional yang gigih untuk menyelamatkannya.
Proyek Restorasi Pertama (Belanda)
Upaya perbaikan awal dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, namun sayangnya, teknik yang digunakan saat itu belum sempurna. Mereka sering membongkar tanpa mendokumentasikan dengan baik. Restorasi yang paling terkenal saat itu dilakukan oleh Th. Van Erp (sekitar 1907-1911) yang berhasil membersihkan dan menyusun kembali beberapa stupa dan arca. Namun, masalah utama – drainase dan fondasi yang rapuh – belum terselesaikan.
Restorasi Besar-besaran UNESCO (1973–1984)
Ini adalah momen kunci dalam sejarah candi borobudur modern. Berkat desakan dan upaya Indonesia, pada tahun 1973, UNESCO memimpin proyek restorasi internasional besar-besaran yang didanai oleh berbagai negara.
Apa yang dilakukan? Proyek ini benar-benar membongkar total lima teras persegi candi! Setiap batu (total lebih dari satu juta batu) dilepas, didokumentasikan, dibersihkan, dan dirawat. Kemudian, fondasi candi diperkuat dengan beton bertulang yang dimiringkan untuk drainase yang lebih baik.
Proyek ini memakan waktu selama 11 tahun dan melibatkan ratusan ahli dari seluruh dunia. Ini bukan hanya restorasi arsitektur, tapi juga restorasi filosofis, karena mereka harus memastikan semua batu dan relief kembali ke posisi aslinya, sesuai dengan alur spiritual Buddhis.
Berkat upaya luar biasa ini, pada tahun 1991, Candi Borobudur resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, pengakuan tertinggi atas sejarah dan nilai universalnya.
Penutup: Candi Borobudur Monumen Abadi Kebaikan
Kita sudah berjalan jauh, dari abad ke-8 di bawah Dinasti Syailendra, masa kegelapan di balik abu Merapi, hingga kebangkitannya di era modern. Sejarah berdirinya Candi Borobudur adalah kisah tentang ketekunan, keahlian, dan yang terpenting, tentang semangat spiritual yang abadi.
Setiap batu yang kamu lihat, setiap relief yang kamu amati, bukan hanya material mati. Itu adalah saksi bisu sejarah yang bertahan melintasi waktu, iklim, bahkan bencana alam. Borobudur berdiri sebagai pengingat kuat akan kejayaan masa lalu Indonesia dan keindahan ajaran universal.
Jadi, ketika kamu mengunjungi candi borobudur lagi, jangan hanya berfoto! Luangkan waktu untuk merasakan energinya, pahami puzzle konstruksinya, dan hargai setiap upaya yang dilakukan selama berabad-abad untuk menjaga legenda ini tetap hidup.








