Gelombang kedua dari wabah ini pecah pada Rabu siang, di mana para siswa dari SMK Karya Perjuangan menjadi kelompok yang paling terdampak. Sumber makanan dalam insiden terbaru ini diduga berasal dari sajian yang diolah di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang berlokasi di Kampung Pasirsaji, Desa Negladari.
Peristiwa ini merupakan kelanjutan dari kejadian serupa yang pertama kali dilaporkan pada hari Senin (22/9/2025) di Desa Sirnagalih, kecamatan yang sama. Dalam insiden pertama tersebut, sebanyak 411 siswa mengalami gejala keracunan. Tingkat keparahan kasus bervariasi, dengan 364 siswa mendapatkan perawatan rawat jalan dan 47 lainnya harus menjalani rawat inap untuk penanganan medis yang lebih intensif.
Plt Kepala Dinas Kesehatan KBB, Lia N. Sukandar, memberikan gambaran detail mengenai kondisi klinis para korban. Ragam gejala yang dilaporkan sangat luas, menunjukkan adanya reaksi serius terhadap makanan yang dikonsumsi.
Keluhan paling dominan adalah gangguan pencernaan, mencakup mual yang dialami 288 siswa, sakit perut (112 siswa), muntah (109 siswa), dan diare (36 siswa). Selain itu, gejala umum lainnya yang banyak ditemukan adalah pusing (159 siswa), lemas (78 siswa), dan sakit kepala (45 siswa). Beberapa korban juga mengalami kondisi yang lebih berat seperti sesak napas (100 siswa), demam (52 siswa), bahkan dua di antaranya dilaporkan mengalami kejang-kejang. Pihak berwenang kini tengah melakukan investigasi mendalam untuk memastikan penyebab pasti dari kedua insiden ini.